Sang pusat tubuh kembali menangis. Otak ku selalu berisik setiap malam. Antara logika dan perasaan ku saling berkontra.
Sehingga pada akhirnya aku memutuskan untuk membuat suatu universe mini ini yang dikemas dalam blog tak beraturan.
Halo Paw! Aku panggil kamu Paw ya, my another ‘me’. Apa kabar? Kali ini, episode pertama aku curhat ke kamu ya! Ga papa ya cerita kali ini sedikit menguras emosi.
Hari ini topiknya tentang seseorang penyuka warna biru. Mari kita panggil dia Biu.
Dia, orang yang aku jumpai di kala putih abu masih semenyenangkan itu. Dia orang pertama yang berani membuka kata di kala orang bilang muka ku bak es di kutub.
Dia juga pemeran utama yang ada dalam untaian kata rasa yang pernah aku tulis di dunia maya.
Biu ini bisa jadi obat, sekaligus luka nya.
Dia, orang yang bisa menjadikan ku merasa menjadi perempuan. Selama ini, semesta memaksa ku untuk memiliki peran ganda. Segala hal pekerjaan, aku harus bisa melakukannya.
Semenjak aku mengenalnya, dia mengajari ku bahwa sekuat apapun perempuan pasti ada sisi lemahnya. Pasti ada saat dimana perempuan butuh perlindungan, merasa aman, dan merasakan penjagaan.
Selama ini aku tidak berpikir demikian karena aku merasa aku bisa melakukannya sendiri.
Biu membuat ku sadar, aku ini perempuan yang tentu tidak bisa melakukan segala hal sendirian. Misalnya angkat beban yang berlebihan.
Tidak hanya itu, ia membantuku mengembalikan harapan masa kecil ku.
Aku kehilangan kasih sayang seorang ayah. Bahkan, aku tidak merasakan kasih sayang lawan jenis.
Aku tidak punya kakak laki-laki, paman ku perantau, aku juga memiliki kerenggangan hubungan dengan kakak laki-laki yang beda ibu. Bahkan aku juga tidak dekat dengan kakek. Hal ini yang menjadikan ku memaksa diri bahwa aku harus bisa melakukan segala pekerjaan.
Meskipun pernah menyukai orang lain sebelumnya, tetap saja hanya sebatas “suka”. Tidak pernah menjadikan ku merasa jadi perempuan seutuhnya.
Saat hadirnya Biu, membuat pikiran ku terbuka.
“I’m a girl”
Jangan terlalu memaksakan diri jika aku tidak bisa. Begitulah kira-kira.
Dia orang yang pantang menyerah, positif, dan selalu mengapresiasi. Dia juga pendukung handal terhadap cita-cita seseorang.
Dia juga sering menghibur dan terkadang bercanda untuk mencairkan suasana. Tapi, terkadang candaannya cukup menggores luka.
Tidak, bukan karena perkataannya yang tajam. Tapi cara dia bergurau dengan perempuan terkadang terlalu terlihat ‘dekat’. Atau mungkin memang dia orangnya cukup dekat dengan semua orang? Entahlah.
Sudah ku bilang kan, dia obat sekaligus luka. Atau mungkin sebaliknya? Luka sekaligus obat.
Ingatan ku tentang kisah di masa lalu tidak pernah memudar sedikit pun. Kisah dimana Biu yang terlampau baik ini secara tidak sengaja (mungkin) memasukkan dirinya pada hati seseorang.
Tentu dia sudah berkali-kali meminta maaf pada ku.
Ku bilang, memaafkan bukan berarti melupakan.
Jujur saja, mungkin sebagian rasa percaya ku padanya sudah menguap begitu saja. Dan kini, aku bertahan dengan sebagian kepercayaan sisanya.
Hal tersebut terkadang menjadikannya menggerutu sewaktu-waktu aku mempermasalahkan sesuatu. Ia juga menganggap ku perempuan posesif. Dan pelabelan tersebut sangat membuat luka. Aku berusaha untuk menghilangkannya. Berusaha untuk. Tidak bertanya-tanya. Bahkan, berusaha tidak ingin tau apapun tentangnya.
Namun entah mengapa, selalu ada saja momen dimana seakan disiarkannya reka adegan masa lalu itu. Apakah ini termasuk trauma? Jika ya, maka hal tersulit untuk menghilangkannya adalah karena antara pelaku dan penyembuhnya adalah orang yang sama. Sangat sulit sekali untuk menghindari rasa trauma.
Aku minta maaf jika aku masih memegang erat trauma ku.
Sungguh, aku berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya dan mencoba menarik rasa percaya yang telah hilang.
Tapi terkadang aku ingin sekali menyampaikan pada mu.
Bisa kah kamu membantu ku untuk menyembuhkannya? Kamu bisa melakukannya dengan cara menghindari hal-hal yang sekiranya dapat membuat otakku berisik memutar trauma masa tersebut. Jujur, aku pun lelah dengan rekaman itu.
Cara mu baik ke semua perempuan, cara mu bercanda pada semua perempuan, dan cara mu menanggapi semua perempuan, membuat ku selalu mengenang masa lalu.
Kamu terkadang mengelak. tidak cukupkah teman-teman perempuan mu itu menjadi bukti ? Apakah sebuah utas pada menfess, mantan teman mu, dan orang yang lebih tua dari mu masih belum cukup bukti?
Bisakah kamu membantu ku?
Teruntuk Biu, seorang yang entah singgah atau sungguh. Aku tidak tau mengapa masih menyukai mu. Namun jika kamu jauh disana menganggap aku tak jadi orang berharga bagimu, ketahuilah rasa ku pernah setulus itu pada mu.
Dimana pun kamu, semoga selalu bahagia.
0 Comments